Di musim pancaroba seperti sekarang ini, kita dihadapkan pada beberapa jenis masalah terkait kesehatan, yang salah satu diantaranya adalah penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegyptie, yakni penyakit demam berdarah.
Upaya pemerintah dan masyarakat terkait pemberantasan nyamuk Aedes Aegyptie telah dilakukan dengan berbagai cara, seperti menjaga kebersihan lingkungan, pemerintah juga tak luput berupaya menyelamatkan para warga dari penyakit mematikan ini, salah satu cara yang ditempuh pemerintah adalah melakukan fogging secara berkala.
Melihat keadaan yang seperti ini, mahasiswa dalam negeri tidak tinggal diam, mereka nampaknya merasa tergugah untuk melakukan “sesuatu” untuk menghadapi problema yang ada. Salah satu bentuk kreativitas mahasiswa UGM ini patut diacungi jempol.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada mengembangkan metode pengendalian terhadap dampak nyamuk demam berdarah dengan cara menyebarkan nyamuk Aedes Aegyptie. Lho, kok malah menyebarkan ? jangan berprasangka buruk dulu kawan, karena nyamuk Aedes Aegyptie yang disebarkan ini telah disuntikkan terlebih dahulu dengan bakteri wolbachia.
Riset itu merupakan upaya penemuan teknologi peredaman wabah demam berdarah dengan cara mengubah populasi nyamuk Aedes Aegyptie di daerah endemik. Nyamuk Aedes Aegyptie ber-wolbachia diyakini tak lagi mampu menularkan virus dengue yang jadi penyebab demam berdarah.
Sebab bakteri wolbachia bisa mematikan pertumbuhan virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes Aegyptie. “Selama ini wolbachia secara alami ada di tubuh 70 persen jenis serangga, tapi pada Aedes Aegyptie harus disuntikkan dulu ke tubuh induknya,” ujar Adi.
Ketika populasi nyamuk Aedes Aegyptie didominasi oleh pengandung bakteri wolbachia, keberadaan hewan ini tak akan lagi memicu wabah demam berdarah. “Nyamuk Aedes Aegyptie hanya mampu terbang di radius 200 meter, jadi kemungkinan besar populasinya bisa dipengaruhi,” kata Adi.
Jika berhasil dilakukan di Kota Yogyakarta, Indonesia menjadi negara termaju yang mengembangkan teknologi baru penanggulangan demam berdarah ini. “Kalau terbukti sukses di Kota Yogyakarta, teknologi ini akan dikembangkan di seluruh Indonesia,” kata Adi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan Komentar Anda Pada Formulir dibawah ini !